

Pagi hari, anak-anak di Desa Bukit Harapan berangkat ke sekolah melewati hamparan kebun sawit. Sore hari, mereka melihat ayah menimbang tandan buah segar, atau ibu menghitung hasil panen. Bagi mereka, sawit bukan sekadar pemandangan. Sawit adalah dapur, uang jajan, dan masa depan keluarga.
Kenyataan sehari-hari inilah yang dijadikan pijakan oleh SMP Negeri 11 Tanjung Jabung Barat. Sekolah ini menyusun kurikulum satuan pendidikan yang diberi nama TBS, singkatan dari Tumbuh Bersama Sawit Berkelanjutan. Seluruh kegiatan belajarnya, baik di kelas, dalam kegiatan penguatan karakter, maupun ekstrakurikuler, dikaitkan dengan kehidupan nyata di kebun sawit. Idenya sederhana: kalau pelajaran dekat dengan hidup anak, belajar jadi lebih mudah dan lebih berarti.
Bayangkan pelajaran aljabar. Biasanya anak bertanya, Untuk apa belajar ini? Di sini, soalnya tentang truk pengangkut tandan buah segar, upah panen, dan potongan biaya angkut di koperasi. Anak belajar berhitung sekaligus belajar bahwa timbangan harus jujur. Rencana ini pun tidak dibuat asal-asalan. Ia berangkat dari hasil rapor pendidikan sekolah, yang menunjukkan aljabar sebagai bagian yang paling perlu diperkuat.
Bagi murid, manfaatnya terasa langsung. Pelajaran menjadi masuk akal karena berhubungan dengan hidup mereka. Mereka juga diajak berkarya, misalnya membuat kerajinan dari pelepah, kompos, dan olahan pangan lokal. Mereka belajar membedakan kabar yang benar dan hoaks. Yang tidak kalah penting, mereka tumbuh bangga pada kampung sendiri.
Bagi sekolah, kurikulum ini memberi arah dan jati diri. Filosofinya diambil dari kebun: bibit dipilih yang baik, dirawat dengan telaten, dipangkas bagian yang menghambat, dipanen saat matang, lalu diremajakan agar lestari. Bagian yang dipangkas itu adalah perundungan, kekerasan, dan rokok. Guru bekerja bersama, dan sekolah bergandengan tangan dengan perusahaan, koperasi, puskesmas, dan pemerintah desa. Semua ini dilakukan tanpa menambah mata pelajaran baru.
Bagi masyarakat, sekolah menjadi tempat bertemu. Orang tua yang berprofesi sebagai pekebun, pengurus koperasi, atau pengrajin diundang berbagi pengalaman, sehingga ilmu dari kebun dihargai sebagai pengetahuan. Anak-anak membawa pulang kebiasaan baik seperti memilah sampah, membuat kompos, dan tidak membakar lahan. Kelak, mereka menjadi generasi yang jujur dalam menimbang dan peduli pada alam.
Yang saya hargai, kurikulum ini tidak hanya memuji sawit. Ia mengakui bahwa harga bisa naik turun, lahan bisa terbakar, pupuk dan pestisida punya risiko, dan masih ada kesenjangan antara pekebun dan pekerja. Anak-anak diajak bangga, sekaligus peduli. Ada pula aturan yang tegas: murid belajar tentang sawit, bukan bekerja di kebun. Tidak ada alat panen yang tajam, tidak ada pestisida, tidak ada beban berat. Orang tua bisa melepas anaknya belajar dengan tenang.
Tentu masih ada pekerjaan rumah. Sekolah ini kecil, gurunya terbatas dan banyak yang merangkap, sementara alat belajar dan sinyal internet belum sepenuhnya memadai. Jangan sampai semua pelajaran dipaksa berbau sawit. Kalau dipaksakan, anak bisa bosan dan guru bisa kelelahan. Sawit sebaiknya menjadi pintu masuk, bukan pagar. Anak yang bercita-cita menjadi perawat, programmer, atau pelaut harus tetap merasa sekolah ini milik mereka juga. Dan murid tetap perlu diberi ruang untuk bertanya, termasuk kepada mitra sekolah sendiri.
Ada tiga harapan saya. Pertama, mulailah dari pelajaran yang hasilnya paling jelas, lalu tambah pelan-pelan. Kedua, dukung para guru lewat pelatihan dan bahan ajar, sebab sebaik apa pun rencananya, gurulah yang menjalankannya. Ketiga, ajak anak dan orang tua memeriksa kabar tentang sawit dari banyak sumber, bukan hanya dari satu pihak. Perlindungan anak pun perlu sampai ke rumah, agar tidak ada murid yang terpaksa meninggalkan sekolah demi bekerja.
Satu tandan sawit baru berharga kalau dipanen tepat waktu. Anak-anak pun begitu: mereka perlu dirawat sampai matang. Bibitnya sudah baik, yaitu pelajaran yang dekat dengan hidup mereka. Kini tinggal kita rawat bersama, sesuai semboyan daerah ini, serengkuh dayung serentak ketujuan.
Heri Kiswanto | Magister Teknologi Pendidikan, Pascasarjana Universitas Jambi Akhir-akhir ini kita sering mendengar ajakan yang sama: guru harus melek AI. Pelatihan penggunaan chatbot, workshop pembuat soal otomatis, hingga seminar “guru di era kecerdasan buatan” ramai di ...
Read MoreHERI KISWANTO, S.Pd (Kab Tanjung Jabung B) 09:29:07 26-10-2026
© 2019 FKN MGMP MATEMATIKA SMP