

Heri Kiswanto | Magister Teknologi Pendidikan, Pascasarjana Universitas Jambi
Akhir-akhir ini kita sering mendengar ajakan yang sama: guru harus melek AI. Pelatihan penggunaan chatbot, workshop pembuat soal otomatis, hingga seminar “guru di era kecerdasan buatan” ramai di mana-mana. Ajakan itu tidak salah. Namun ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan: apakah guru yang mahir AI otomatis menjadi guru yang berkinerja lebih baik?
Saya mencoba menjawabnya lewat penelitian terhadap guru SMP di kecamatan Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi. Hasilnya membuat saya berpikir ulang tentang cara kita membicarakan transformasi digital di sekolah.
Tiga faktor, satu pertanyaan
Penelitian ini menguji tiga hal sekaligus untuk melihat mana yang paling menentukan kinerja guru: kompetensi AI guru, efikasi diri guru (keyakinan akan kemampuan diri sendiri dalam mengajar), dan digital leadership (arah, dukungan pimpinan, serta pelatihan digital yang tersedia).
Hasilnya: keyakinan diri guru menjadi penentu terkuat, disusul digital leadership dibsekolah. Sementara itu, kompetensi AI tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja ketika dua faktor lainnya diperhitungkan. Ketiganya bersama-sama menjelaskan sekitar 47,6% variasi kinerja guru.
Guru yang yakin pada kemampuannya dan bekerja di sekolah yang jelas arah digitalnya cenderung berkinerja lebih baik, terlepas dari seberapa canggih ia memakai AI.
Apakah ini berarti AI tidak penting?
Tentu tidak, dan saya ingin berhati-hati di sini. Jika dilihat sendiri-sendiri, kompetensi AI memang berhubungan positif dengan kinerja guru. Hubungan itu baru “menghilang” setelah keyakinan diri dan digital leadership dimasukkan ke dalam analisis. Salah satu dugaan saya, manfaat AI mengalir melalui kedua faktor tersebut: guru yang percaya diri dan didukung sekolah lebih mampu memakai AI dengan tepat. Dugaan ini belum terbukti dan perlu diuji pada penelitian berikutnya.
Perlu dicatat pula bahwa 85,2% guru dalam sampel ini sudah pernah menggunakan AI dalam pembelajaran. Artinya, akses dan pengalaman dasar bukan lagi pembeda utama. Yang membedakan adalah apa yang terjadi di sekitar teknologi itu: seberapa yakin gurunya, dan seberapa kuat dukungan sekolahnya.
Mengapa keyakinan diri begitu menentukan?
Albert Bandura sudah lama menjelaskan bahwa keyakinan seseorang atas kemampuannya memengaruhi usaha, ketekunan, dan cara menghadapi kesulitan. Di kelas, ini terlihat nyata. Guru yang yakin mampu menjelaskan ulang materi, mengelola perilaku siswa, dan bekerja sama dengan rekan serta orang tua cenderung merencanakan pembelajaran lebih matang dan berani mengambil inisiatif.
Sebaliknya, guru yang ragu pada dirinya sering kali hanya “menempelkan” teknologi pada praktik lama. Alatnya baru, tetapi cara mengajarnya tidak berubah.
Sekolah bukan sekadar tempat memasang perangkat
Dalam hal ini, aspek yang paling kuat mencerminkannya adalah dorongan dan kompetensi kepala sekolah, pelatihan digital yang terarah, serta komunikasi visi digital kepada seluruh warga sekolah. Dengan kata lain, guru berkinerja lebih baik ketika sekolah memberi arah yang jelas dan dukungan yang nyata, bukan sekadar menyediakan perangkat.
Apa yang bisa kita lakukan?
Berdasarkan temuan ini, ada tiga hal yang layak dipertimbangkan:
1. Pelatihan guru perlu membangun rasa mampu, bukan hanya keterampilan teknis. Pengalaman berhasil dalam skala kecil, pendampingan sejawat, dan umpan balik yang membangun dapat menguatkan keyakinan diri guru.
2. Kepala sekolah perlu menjadi motor penggerak. Visi yang jelas, contoh nyata dari pimpinan, dan pelatihan yang terstruktur lebih berpengaruh daripada pengadaan perangkat semata.
3. Pelatihan AI sebaiknya berjalan bersamaan dengan dua hal di atas. Pelatihan yang berdiri sendiri berisiko tidak berdampak pada kinerja.
Catatan kehati-hatian
Penelitian ini memakai data laporan diri guru pada satu waktu, sehingga hasilnya menunjukkan keterkaitan, bukan sebab-akibat yang pasti. Alat ukur kompetensi AI juga lebih banyak menanyakan praktik penggunaan daripada kemampuan yang diuji langsung. Karena itu, temuan ini sebaiknya dibaca sebagai pengingat arah kebijakan, bukan vonis bahwa AI tidak perlu dipelajari.
Penutup
AI akan terus berkembang, dan guru memang perlu mengikutinya. Namun jika kita ingin kinerja guru benar-benar meningkat, mungkin pertanyaannya perlu bergeser dari “sudah pakai AI apa?” menjadi “apakah guru kita merasa mampu dan didukung?”.
© 2019 FKN MGMP MATEMATIKA SMP